Sabtu 26 Mar 2022 06:45 WIB

Israel akan Gelar Konferensi Regional Bersejarah Pekan Depan

Israel dan Mesir memang telah menandatangani perjanjian damai pada 1979.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Muhammad Fakhruddin
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett, dan Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed melakukan pertemuan trilateral di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, Selasa (22/3/2022).
Foto: Egyptian Presidency Media Office via AP
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett, dan Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed melakukan pertemuan trilateral di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, Selasa (22/3/2022).

REPUBLIKA.CO.ID,TELAVIV -- Menteri Luar Negeri Yair Lapid mengatakan negaranya akan menjadi tuan rumah konferensi regional lima arah yang disebut bersejarah pekan depan. Pertemuan ini akan diikuti negara-negara regional ketika pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran masih dalam ketidakpastian.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan para menteri luar negeri Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko akan tiba di Israel untuk serangkaian pertemuan diplomatik pada Ahad dan Senin pekan ini. Kepastian ini dijelaskan Lapid dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Dilansir dari Al Arabiya, Jumat (25/3/202), UEA dan Bahrain menormalkan hubungan dengan Israel pada tahun 2020 di bawah kesepakatan yang ditengahi AS yang dikenal sebagai Kesepakatan Abraham. Peristiwa ini menciptakan dinamika regional baru berdasarkan kepedulian bersama atas Iran dan Maroko mengikuti kesepakatan ini juga tahun lalu.

Para pemimpin Mesir, Israel dan Uni Emirat Arab bertemu di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh pada Selasa (22/3/2022) untuk pembicaraan tentang dampak ekonomi dari invasi Rusia ke Ukraina dan pengaruh Iran. Terutama pada saat ketidakpastian atas komitmen keamanan Washington di wilayah. Israel dan Mesir memang telah menandatangani perjanjian damai pada 1979.

Amerika sendiri baru-baru ini mengaku kurang optimisme untuk memulihkan kesepakatan perjanjian 2015 guna membatasi pengembangan nuklir Iran. Mereka memperingatkan bahwa AS mengarah ke “Rencana B” jika Teheran bergeming.

Baru sepekan silam para pejabat Washington berharap suatu kesepakatan yang bertujuan untuk menghentikan langkah Iran menuju kemampuan senjata nuklir akan dapat dicapai setelah perundingan selama hampir satu tahun.

Para pejabat AS menyatakan mereka mengira Teheran akan mencapai kesepakatan setelah perayaan Nowruz, tahun baru Persia, pada hari Minggu. Namun, nada optimistis itu mendadak berubah keesokan harinya.

“Saya ingin memperjelas bahwa suatu kesepakatan tidak segera terjadi dan juga tidak pasti,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price, Senin (21/3/2022). 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement