Sabtu 19 Aug 2023 10:42 WIB

Swedia Tingkatkan Kewaspadaan Setelah Aksi Pembakaran Alquran

Terjadi aksi pembakaran Alquran di Swedia.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Demonstran menginjak bendera tiruan Swedia saat  demo terhadap pembakaran salinan Alquran di Swedia, di Karachi, Pakistan, Ahad (2/7/2023).
Foto: EPA/ SHAHZAIB AKBER
Demonstran menginjak bendera tiruan Swedia saat demo terhadap pembakaran salinan Alquran di Swedia, di Karachi, Pakistan, Ahad (2/7/2023).

REPUBLIKA.CO.ID,STOCKHOLM -- Badan intelijen Swedia menaikkan tingkat siaga teror menjadi empat dari skala lima di dalam negeri. Hal ini dilakukan setelah muncul beragam reaksi kemarahan di dunia Muslim, terhadap pembakaran Alquran di Swedia yang menjadikan negara itu sebagai “target prioritas.”

"Levelnya dinaikkan dari "Ditinggikan" (elevated) sejak 2016, menjadi "Tinggi" (high)," kata kepala Dinas Keamanan Swedia (Sapo) Charlotte von Essen, dikutip di The Globe Post, Sabtu (19/8/2023).

Baca Juga

Ia menyebut alasan keputusan ini adalah situasi yang terus memburuk. sehubungan dengan ancaman serangan ke Swedia. Selain itu, muncul penilaian bahwa ancaman tersebut akan tetap ada untuk waktu yang lama.

Dalam konferensi pers terpisah, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan upaya tindakan teroris yang direncanakan telah dicegah. “Orang-orang telah ditangkap, baik di Swedia maupun di luar negeri,” ujar dia tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Von Essen dan Kristersson lantas mengimbau orang Swedia untuk terus menjalani kehidupan mereka seperti biasa, tetapi tetap waspada terhadap sesuatu yang tidak biasa dan tetap menjaga informasi.

Tidak hanya itu, Von Essen juga menekankan keputusan menaikkan kewaspadaan itu tidak didasarkan pada insiden tunggal, melainkan penilaian kolektif. Ancaman serangan yang ditimbulkan oleh oknum kekerasan Muslim telah meningkat dalam satu tahun terakhir.

“Swedia telah berubah dari dianggap sebagai target yang sah untuk serangan teroris, menjadi dianggap sebagai target yang diprioritaskan,” ucap Von Essen.

Swedia, seperti negara tetangga Denmark, dalam beberapa bulan terakhir telah menyaksikan serentetan penodaan Alquran di depan umum, termasuk pembakaran. Aksi tersebut telah memicu kemarahan dan kecaman yang meluas di negara-negara Muslim.

Kepala Pusat Penilaian Ancaman Teroris Nasional, Ahn-Za Hagstrom, menyebut insiden-insiden itu telah berkontribusi pada citra Swedia sebagai negara yang memusuhi Muslim.

Sebagai bentuk tanggapan, pengunjuk rasa Irak menyerbu kedutaan Swedia di Baghdad dua kali pada bulan Juli. Mereka juga melakukan aksi pembakaran di dalam kompleks kedutaan pada kesempatan kedua.

Di sisi lain, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berbasis di Jeddah juga telah menyuarakan kekecewaan terhadap Swedia dan Denmark, karena tidak mengambil tindakan setelah pembakaran.

Pekan lalu, sebuah bom molotov dilemparkan ke kedutaan Swedia di Beirut meskipun tidak meledak. Pada akhir pekan, kelompok Al-Qaeda menyerukan serangan terhadap negara Skandinavia tersebut.

Banyaknya aksi protes yang ada telah menyebabkan Swedia meningkatkan kontrol perbatasan sejak 1 Agustus. Kristersson mengatakan Swedia terlibat dalam upaya diplomatik yang intens dengan negara-negara Muslim, dalam upaya menenangkan situasi yang sulit.

Sejak beberapa waktu lalu, Swedia telah berada di radar Islamis sebelum pembakaran Alquran baru-baru ini. Pada 2022, negara itu menjadi sasaran kampanye disinformasi besar-besaran, yang mengklaim layanan sosialnya menculik anak-anak Muslim dan menempatkan mereka di rumah-rumah Kristen, membuat otoritas Swedia secara terbuka menyangkal tuduhan tersebut.

Pada tahun yang sama dan pada awal 2023, seorang aktivis sayap kanan Swedia-Denmark membakar beberapa salinan Alquran, baik untuk mencela Islam maupun merusak pengajuan keanggotaan Swedia ke NATO dan negosiasi selanjutnya dengan Turki.

Di luar itu, beberapa negara Barat baru-baru ini memperbarui peringatan perjalanan mereka ke Swedia. Informasi ini disampaikan bahkan sebelum Swedia meningkatkan penilaian ancamannya.

Pada 26 Juli, Amerika Serikat mendesak warga negaranya untuk meningkatkan kewaspadaan di Swedia karena terorisme. Kementerian Luar Negeri Inggris juga mengatakan teroris sangat mungkin mencoba dan melakukan serangan di Swedia.

Sementara ini, Sapo mengatakan ada indikasi aktor asing memicu narasi negatif tentang Swedia. “Kami tahu bahwa kelompok ekstremis dan kekuatan asing dengan senang hati memanfaatkan situasi yang dialami Swedia. Mereka mengeksploitasi ini untuk menyebarkan perpecahan lebih lanjut,” kata Wakil Kepala Kontra-terorisme Sapo, Susanna Trehorning.

Badan intelijen PET di negara tetangga Denmark, mengatakan pembakaran Alquran juga telah meningkatkan ancaman serangan di sana. Meski demikian, tidak ada rencana untuk menaikkan tingkat peringatan teror dari saat ini 4 pada skala 5, seperti yang telah terjadi selama beberapa tahun.

Norwegia juga mengatakan tidak memiliki rencana untuk mengubah penilaian ancamannya dari 3 saat ini pada skala 5.  

Sumber:

https://theglobepost.com/2023/08/18/sweden-terror-alert-koran-burnings/

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement